Minggu, 09 Januari 2011

PARADIGMA PERNIKAHAN (PART 2)


Saya ingin menyampaikan satu kisah nyata. Tentang Dee. Ketika dipertemukan dengan beberapa pilihan, Dee sempat bingung. Urusan jodoh nih ! siapa pun pasti menginginkan jodoh yang lebih baik, termasuk Dee. Terus, apa yang ia lakukan? Pertama-tama, ia lapor dulu (baca : memohon) kepada Yang Maha Menilai. Kedua, karena menginginkan jodoh yang lebih baik, maka ia pun mulai memperbaiki diri. Inilah yang disebut dengan memantaskan diri. Yah, bukan sekadar memantaskan diri. Tapi, memantaskan diri di hadapan Yang Maha Menilai. Maka :
  • Ibadah A ia tingkatkan
  • Ibadah B ia lipatgandakan
  • Ibadah C ia rutinkan (sebelumnya, jarang-jarang)
  • Ibadah D ia rutinkan (sebelumnya, hampir-hampir tidak pernah)
Alhamdulillah, puji Tuhan, hanya dalam waktu beberapa bulan setelah meningkatkan ibadah, ia bertemu dan saling tertarik dengan seorang gadis yang sudah bertahun-tahun melakukan dan meningkatkan :
  • Ibadah A
  • Ibadah B
  • Ibadah C
  • Ibadah D
Bukankah Dia telah berjanji, “yang baik-baik adalah untuk yang baik-baik. Dan begitu pula sebaliknya.” Kurang-lebih, yah begitu (QS. 24: 26). Jadi ya kalau anda menginginkan pasangan yang lebih baik? Yah, perbaiki diri, pantaskan diri. Dengan demikian, mudah-mudahan Dia akan mempertemukan anda dengan seseorang yang pantas untuk Anda. Sejenak, coba deh Anda Tanya-tanya pada diri anda sendiri :
  • Apakah anda sudah betul-betul memperbaiki diri?
  • Apa anda sudah memantaskan diri di hadapan-Nya?
  • Apa anda lebih sibuk memantaskan diri di hadapan manusia?
  • Bagi laki-laki, apa anda sudah pantas menjadi imam?
Sering kali,kita menginginkan jodoh yang lebih baik, tapi sanyangnya, kita sendiri malas memperbaiki diri. Kita sendiri malas memantaskan diri. Lha, apa mungkin kita mendapatkan jodoh yang lebih baik? Sepertinya sih , kecil kemungkinannya. Atau, begini. Bukan mustahil jodoh kita itu nilainya 8. Namun, kita itu nilainya masih 6. Bisa jadi, karena itulah, Dia belum mempertemukan kita dengan jodoh kita. Yah, belum pantas, menurut-Nya.
Kembali ke Dee. Tidak ketinggalan, Dee juga menggabungkan adab doa dan hokum LOA, agar impian bertemu jodohnya itu terwujud dalam waktu yang jauh lebih cepat.
  • Ia membayangkan, berpura-pura seolah-olah itu sedang terjadi, dan terus berpura-pura sampai itu benar-benar terjadi. Ini dia konkretkan dengan membuat undangan akad nikah pada template SMS, membeli ranjang ukuran double, mempercantik taman di rumah, dan lain-lain. (pst, padahal waktu itu ia belum tahu siapa gadis itu!)
  • Ia menetapkan kapan impian itu akan terjadi dan memperjelas semuanya. Ini dia konkretkan dengan memohon kepada Yang Maha Kuasa agar bertemu dengan jodohnya pada bulan X dan menikah pada bulan Y.
  • Alhamdulillah, puji Tuhan, dalam waktu singkat, dalam waktu kurang dari 6 bulan, pertemuan pada bulan X dan pernikahan pada bulan Y itu benar-benar terjadi!
Orang-orang sering bilang, “jodoh itu di tangan Tuhan.” Sambil bergurau, saya balas, “itu betul. Dan jodoh itu akan tetap di tangan Tuhan, selagi kita tidak berusaha mengambilnya.”