Selasa, 19 April 2011

LAYLA & QAYS (MAJNUN)

Kisah percintaan klasik antara dua manusia yg dulu sering dibicarakan oleh banyak orang-orang Arab tepatnya ketika Zaman Bani Umayyah, yah romantika antara Layla & Qays (Majnun). Layla dengan kesetiaannya yg begitu mengguggah dan menggetarkan, dan Qays yg begitu mencintai Layla sepanjang hidupnya. Konon kisah ini menginspirasi William Shakespeare untuk menuliskan kisah romantika barat “Romeo & Juliet”. Dalam ranah sufi kisah Layla & Majnun, Layla menjadi simbol yg mempresentasikan “Yang Terkasih, yang rahasia dan tak tersentuh” dan Majnun mempresentasikan seorang “Pencinta”. Dalam ajaran agung para Sufi, hubungan antara pencinta dan kekasih, juga antara hamba dan Tuhan, hanya bisa terjalin melalui cinta (mahabbah).

Qays alias Majnun melihat dengan hatinya akan kecantikan Layla, sampai dia tergila-gila. Dalam kegilaan cintanya: ia tahan tidur, tahan lapar, tahan kehujanan dan kepanasan sampai goresan hidup apapun musnah di altar cintanya pada Layla. Sampai sajak-sajaknya bila didendangkan di waktu malam yang diterangi cahaya rembulan, bisa masuk dalam mimpi-mimpi Layla, dan Layla tahu itu, ada seseorang yang mencintai hatinya bukan tubuhnya. Bahkan saking kangennya, Qays si majnun itu begitu ingin menatap wajah yang sangat amat dicintainya, biar tenteram hatinya, maka suatu hari ia mendatangi dan menunggu menunggu di pintu gerbang rumah Layla itu sampai mengesampingkan waktu sudah berapa lama dia disitu. Ternyata saat pintu gerbang terbuka yang keluar bukan Layla, tetapi seekor anjing kurap, maka pada saat itu ia menggesa dengan bendendang puisi ria: Wahai Layla,betapa lama aku menunggu ingin menatap wajahmu, walau sekejab saja, aku sudah puas dan terima, namun yang keluar dari rumahmu ternyata anjing kurap ini, walau seburuk apapun anjing ini toh keluar dari rumahmu, maka akan aku cium dia, barangkali anjing ini pernah kau sentuh dengan tangan lembutmu…..

Layla walau dirinya terbentur oleh keadaan yg memaksanya untuk terpisah dengan kekasihnya, ia tetap setia dan menjaga keperawanannya sampai ia benar2 menemui kekasihnya Qays. Sering kali ia berusaha mengetahu kabar Qays yg terpisah jauh, bahkan ia begitu khawatir ketika ia mengetahui Qays berada di suatu gurun dan Qays tak pernah berubah seakan seperti ada tembok statis terhadap hatinya, bahwa setelah Allah, Muhammad, dan Orang Tua, kekasih sejatinya adalah Layla. Ia membalas kesetiaan Layla dengan kesetiaan jua. Dan ketika Layla dikurung oleh keluarganya di rumah. Mereka menjaganya dengan hati-hati dan tak memberi kesempatan Qays untuk bertemu dengannya. Rembulan itu disembunyikan dari mata pemujanya. Jalan menuju padang rumputan kini tertutup bagi seekor menjangan muda. dan apakah yg bisa dilakukan Layla???

Perempuan itu menyembunyikan kegetirannya. Hanya ketika sendirian ia membuka tirai jendelanya dan menagis tertahan-tahan. Terpisah dari kekasihnya membuat Qays menunjukkan duka laranya kepada setiap orang ketika ia tahu Layla menangis, Qays hanya bisa menyebut namanya melalui nyanyian (do’a) dimana-mana di setiap tempat dan Layla tetap setia akan penantiannya.

Kawan-kawan, metafor ini cukup kiranya menyadarkan kita akan keelokan sentuhan tanganNya, yang berwujud suami atau istri atau sepasang kekasih itu, sayangilah dia, cintailah dia, rengkuhlah dia, dekaplah dia biar hangat tubuh dan hatinya, biar tersenyum dia, maka Dia akan tersenyum kepadamu. Jangan kecewa, kalau dia kurang pandai memasak mungkin dia pandai merayumu, kalau dia kurang bisa mengurus apa-apa mungkin bisa kau pandang kecantikannya, kalau (maaf) dia kurang cantik mungkin bisa kau rasakan dahsyat apanya, hehehehe, kalau dia kurang sayang mungkin bisa kau buktikan bahwa dia sangat subur sehingga permata hatimu banyak itu, kalau dia kurang apanya tetapi ia sangat rajin dan setia dan carilah sendiri kebaikannya sampai hilang keburukannya.

Dari sinilah Kanjeng Nabi Muhammad SAW berpesan: Tidak pantas bagi lelaki yang beriman untuk meremehkan wanita yang beriman. Bila ia tidak menyukai satu perangai darinya, pasti ia puas dengan perangainya yang lain….



Senin, 18 April 2011

GUNUNG ITU BERGERAK, LAKSANA JALANNYA AWAN...

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Qur'an, 27:88)

Dalam sebuah ayat, kita diberitahu bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak.

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Qur'an, 27:88)



Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.

Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:

Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah "continental drift" atau "gerakan mengapung dari benua" untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.